PERAN PEMUDA SEBAGAI GENERASI BANGSA
Penyusun :
Anna Dhifatul F. (B94219069)
Nura Salma M. (B94219105)
MD
Kelas : D-2
Dosen
Pengampu :
Baiti
Rahmawati, M.Sos
PROGRAM
STUDI MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
SURABAYA
2020
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Segala puji bagi Allah
SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan
sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam
semoga terlimpah kepada baginda tercinta Nabi Muhammad SAW yang kita
nanti-nantikan syafa’atnya. Tidak lupa pula kami selalu mengucap syukur kepada
Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya sehingga kami mampu menyelesaikan
pembuatan makalah ini.
Makalah ini membahas
tentang Peran Pemuda Sebagai Generasi Penerus Bangsa yang akan
dijelaskan dalam beberapa sub yaitu pemuda dan identitas, peran pemuda dalam
masyarakat, pemuda dalam prespektif Islam, masalah dan potensi pemuda serta
peran pemuda masa kini. Dalam makalah ini kami menyusun dengan 31 referensi.
Kami juga menyadari
bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat
kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, kami mengharapkan kritik
serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat
menjadi makalah yang lebih baik lagi. Kemudian apabila terdapat banyak
kesalahan pada makalah ini kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Penulis juga mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak khususnya kepada dosen mata kuliah kami ibu Baiti
Rahmawati, M.Sos yang telah membimbing dalam menulis makalah ini. Tidak lupa
pula kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada orang tua kami yang
telah membantu mendo’akan kami serta telah membantu memberikan segala keperluan
kami dalam membuat makalah ini.
Demikian, semoga
makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.
Surabaya, 6 Maret 2020
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR
II
DAFTAR ISI
IV
PERAN PEMUDA SEBAGAI GENERASI BANGSA
1
A.
Pemuda dan Identitas
1
B.
Peran Pemuda dalam Masyarakat
6
1.
Peran
pemuda/mahasiswa dalam menegakkan kemerdekaan
12
2.
Peran
mahasiswa/pemuda dalam mempelopori Orde Baru
16
3.
Peran
mahasiswa dalam masyarakat
19
4.
Peran
mahasiswa/pemuda dalam menjaga kedaulatan bangsa.
24
C.
Peran Pemuda dalam Prespektif Islam
25
D. Masalah dan
Potensi Pemuda
33
1.
Permasalahan
Generasi Muda
33
2.
Potensi
Generasi Muda
39
E.
Pemuda Masa Kini
43
PENUTUP
51
A.
Kesimpulan
51
B.
Saran
52
DAFTAR
PUSTAKA
53
PERAN PEMUDA SEBAGAI GENERASI BANGSA
A.
Pemuda dan Identitas
Definisi pemuda dalam undang-undang kepemudaan nomer 40 tahun 2009,
yang menyebutkan bahwa pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki
periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16-30 tahun. Individu
yang senantiasa bergerak dalam proses secara maksimal melalui pendaya-gunaan
potensi yang dimiliki, baik fisik maupun pemupukan akal budi merupakan
pemahaman dari pemuda.[1]
Dalam kamus Webster, pemuda (Youth)
adalah “the time of life between childhood and maturity; early maturity; the
state of being young or immature or inexperienced; the freshness and vitality
characteristic of a young person” (kehidupan di antara masa kanak-kanak dan
kedewasaan; awal kedewasaan; keadaan muda atau belum matang; kesegaran dan
karakteristik daya hidup orang muda).
Pemuda atau yang sering disebut dengan “generasi
muda” dalam istilah demografis dan sosiologis. Dalam pola Dasar Pembinaan dan
Pengembangan Generasi Muda, yang dimaksud pemuda dapat dilihat secara[2] :
1.
Biologis usia seseorang dikatakan pemuda yaitu antara
usia 15-30 tahun.
2.
Budaya atau fungsional di depan pengadilan maka
seseorang berusia 18 tahun dapat dikatakan sudah dewasa. Secara psikologis dan
budaya, pada usia 21 tahun seseorang dapat ditentukan kematangannya.
3.
Angkatan kerja yaitu ada tenaga muda dan tenaga tua.
Tenaga muda merupakan calon-calon tenaga kerja yang berusia 18-22 tahun.
4.
Perencanaan modern menggunakan istilah sumber-sumber
daya manusia muda (young human resources) yaitu 0-18 tahun.
5.
Ideologis-politis generasi muda merupakan calon
pengganti generasi sebelumnya biasanya berusia 18-30 tahun, dan terkadang
sampai usia 40 tahun.
6.
Umur, Lembaga dan ruang lingkup tempat, terdapat 3
kategori:
Siswa : 6-18 tahun,
dibangku sekolah
Mahasiswa : 18-25 tahun,
di Universitas atau perguruan tinggi
Pemuda : 25-30 tahun, di luar
lingkungan sekolah ataupun perguruan tinggi
Gagasan tentang “generasi”, disorot dalam esai klasik Karl Mannheim The
Problem of Generations (1952, edisi asli nya 1928) mengilhami banyak
karya tentang kajian pemuda sehubungan dengan perubahan sosial (misalnya,
Corsten 1999, Mayall 2002, Bab 3). Inilah salah satu gagasan disertasi Juliette
Koning ten tang “generasi-generasi perubahan” di sebuah desa Jawa (Koning 1997,
2004).[3]
Dalam perjalanan sejarah dapat dibuktikan bahwa, kemerdekaan yang kita
dapat yaitu sebuah bukti perjuangan dari para pemuda. Apabila para pemuda sudah
menetapkan untuk bergerak maju dan berusaha, maka tidak ada yang tidak mungkin
dapat tercapai dengan semangat para pemuda.
Meskipun negara saat ini sudah tebebas dari penjajahan muncul banyak
permasalahan-permasalahan lain yang dihadapi negara saat ini. Kemajuan dan
kemunduran suatu bangsa terletak pada kemauan pada generasi muda.[4]
Banyak fakta yang menunjukkan masih banyak terdapat kelemahan dan
kekurangan. Namun, sebagai generasi muda penerus bangsa, generasi muda harus
turut berperan aktif dalam pembangunan bangsa agar lebih baik. Generasi muda
juga harus sadar, bahwa kita tidak boleh hanya berpangku tangan, menjadi
penonton dalam cepatnya perkembangan pembangunan saat ini.
Pemuda
merupakan konsep yang selalu dikaitkan dengan masalah “nilai” dan lebih sering
dikaitkan dengan pegertian ideologis kultural, yaitu pemuda harapan bangsa,
pemuda pemilik masa depan, dan lain-lain, dan ini merupakan beban moral bagi
pemuda.
untuk mengenal lebih dalam mengenai kepemudaan maka
pemuda dapat dilihat dari dua pendekatan, yaitu:[5]
1. Pendekatan klasik
Pada masa-masa muda merupakan fase pertumbuhan
biologis yang bersifat sementara dimana fase ini merupakan masa perkembangan
yang aneh namun menarik untuk diikuti. Pertumbuhan ini bersifat sementara
karena manusia tidak dapat menolak untuk menua.
Pemuda sering dianggap sebagai kumpulan orang atau
kelompok yang memiliki pendapatnya sendiri meskipun pendapat itu bertentangan
dengan pendapat lain. Biasanya pendapat pemuda bertentangan dengan masyarakat
umum khususnya orang tua atau generasi sebelumnya. Dengan adanya perbedaan
pendapat tersebut, maka seringkali muncul konflik-kolflik yang disebabkan
keinginan para pemuda yang tidak sejalan dengan keinginan para generasi tua
yang lalu akan menimbulkan gejolak para pemuda dalam mencari identitas. Pendekatan
kepemudaan dalam dua asumsi pokok:
a) Proses perkembangan manusia bukan sebagai
sesuatu yang kontinum, namun fragmentaris. Pemuda sebenarnya sedang berusaha
untuk menempatkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Apabila
pemuda melakukan suatu hal yang tidak wajar dan bertentangan dengan keadaan
sosial yang sudah mengakar pada diri masyarakat, maka aka nada perbedaan
pendapat dengan generasi tua.
b) Dalam kehidupan terdapat pola yang dimana
pola tersebut presepsi yang diwakili oleh generasi penerus namun tidak
melakukan perubahan terhadap tradisi. Pada hal ini pemuda yang tidak ingin
ikkut berpartisipasi dalam mendukung proses kehidupan dalam masyarakat.
2. Pendekatan ekosferis
Dalam pendekatan ini terdapat dua aspek yaitu pertama,
pemuda dan kehidupan orang dewasa, serta anak-anak merupakan suatu totalitas,
taka da pertentangan maupun pemisah diantaranya. Kedua, nak-anak, generasi tua,
dan generasi muda berada didalam suatu pandangan dimana semua semua kalangan
bertanggung jawab atas kesejahteraan, keselamatan, dan perkembangan generasi
sekarang maupun yang akan datang.
B. Peran Pemuda
dalam Masyarakat
Masyarakat
dalam bahasa Arab, yaitu syirk yang artinya bergaul. Sedangkan
dalam bahasa Inggris, kata masyarakat sering disebut dengan society yang
berasal dari ata socius artinya kawan. Adanya saling bergaul ini
tentunya karena ada bentuk-bentuk aturan hidup yang bukan disebabkan oleh
manusia sebagai perseorangan melainkan oleh unsur-unsur kekuatan lain dalam
lingkungan sosial yang merupakan kesatuan (Soelaman, 1993: 63).[6]
Masyarakat
merupakan sekelompok manusia yang memiliki tatanan hidup, norma-norma, adat
istiadat yang sama ditaati dalam lingkungannya. Generasi muda memiliki peran
yang sangat penting dalam lingkungan masyarakat. Generasi muda memiliki peran
untuk terus mempertahankan norma-norma dan adat istiadat yang berlaku di kalangan
masyarakat.
Dalam
setiap kalangan masyarakat, pemuda dianggap sedang mengalami “moratorium”. Moratorium
merupakan masa persiapan yang diadakan masyarakat untuk memungkinkan
pemuda-pemuda yang bersangkutan dalam jangka waktu tertentu mengalami
perubahan, dengan sekalian kesalahan yang mereka buat dalam mengalami perubahan
itu (Harsja W. Bachtiar, 1982 : 11).
Peran
pemuda dalam masyarakat terbagi menjadi dua hal, yaitu:
a.
Peran pemuda atas usahanya dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan.
Peran ini
dibedakan atas:
1)
Sebagai individu yang meneruskan dan melestarikan tradisi dengan
sendirinya berusaha mentaati tradisi yang berlaku.
2)
Sebagai individu yang berusaha menyesuaikan diri dengan orang yang
berusaha merubah tradisi, sehingga akan terjadi perubahan tradisi dalam
masyarakat.
b.
Peran pemuda yang menolak menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Peran ini
dibedakan atas:
1)
Jenis pemuda urakan, yang tidak bermaksud mengadakan perubahan
dalam kebudayaan dan masyarakat, namun menginginkan kebebasan untuk menentukan
kehendaknya.
2)
Jenis pemuda nakal, yang tidak ingin, tidak bermaksud, tidak
berniat untuk mengadakan perubahan dalam masyarakat dan kebudayaan, namun
berusaha mendapatkan manfaat dari masyarakat dengan cara melakukan tindakan
yang dapat merugikan masyarakat.
3)
Jenis pemuda radikal, yang berkeinginan mengadakan perubahan
revolusioner akibat tidak bisa menerima kenyataan yang ada.
Pembinaan
dan pengembangan generasi muda dapat dilakukan melalui beberapa asas, yaitu:
a.
Asas edukatif, pembinaan dan pengembangan dapat dibedakan atas:
1)
Unsur di luar generasi muda yang didasarkan atas asas: ing
ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso dan tut wuri handayani.
2)
Sesama generasi muda yang didasarkan atas asas: silih asih,
silih asah, dan silih asuh.
b.
Asas persatuan dan kesatuan bangsa.
c.
Asas swakarsa, yaitu
pembinaan dan pengembangan generasi muda harus dapat menumbuhkan, membantu, dan
mengembangkan kemauan dan kemampuan generasi muda untuk membina dan
mengembangkan diri sendiri dan lingkungan.
d.
Asas pendayagunaan dan fungsionalisasi, penataan
berbagai macam organisasi pemuda untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna
bagi pelaksanaan program-program generasi muda dalam pembangunan nasional.
Begitu
besarnya peran pemuda dalam kehidupan yang akan datang sehingga semua
kalanganpun mengakui betapa besar efek
yang dapat ditimbulkan dari generasi muda ini. Salah satu tokoh yang mengakui betapa besar efek
pemuda untuk masa depan yaitu Ir. Soekarno presiden Republik Indonesia yang
pertama mengatakan.
“Beri aku
1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda,
niscaya akan kuguncang dunia”.[7]
Dapat disimpulkan bahwa peran pemuda sangat besar sehingga dapat
mengubah dunia. Namun, sebelum generasi muda mengubah dunia dengan
gagasan-gagasan luar biasa yang mereka punya. Maka bisa dimulai dari memberikan
dampak terhadap lingkungan masyarakat terkecil terlebih dahulu.
Menurut (Abu Ahmadi, 1991: 87), keluarga merupakan unit kesatuan
masyarakat yang terkecil yang sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam
masyarakat. Keluarga juga merupakan suatu sosial terkecil yang dimiliki manusia
sebagai makhluk sosial yang ditandai adanya kerja sama ekonomi.[8]
Sebelum pemuda terjun dalam kehidupan bermasyarakat, tentunya para
pemuda juga mendapat bekal karakter dari keluarga. Untuk mendapatkan generasi
muda yang kompeten dan berkualitas maka peran keluarga merupakan salah satu
faktor penting untuk mencapai keberhasilan tersebut.
Sebagai hubungan struktur sosial, keluarga akan memberikan pengaruh
terhadap peradaban masyarakatnya yang selanjutnya masyarakat akan menentukan
masa depan dan peradaban bangsanya. Dari sini dapat dipastikan bahwa keluarga
merupakan unit masyarakat terkecil yang sangat berpengaruh pada kehidupan masa
depan suatu bangsa. Pendidikan karakter dalam suatu keluarga sangat penting
adanya. Dikarenakan keluargalah yang akan menyiapkan generasi-generasi yang
berkarakter.[9]
Generasi-generasi unggul tersebut diharapkan dapat menggantikan peran generasi
sebelumnya dengan lebih baik sehingga dapat mewujudkan kehidupan yang lebih
baik.
Dalam masyarakat, pergantian generasi dapat menimbulkan dua kemungkinan
yaitu tidak adanya perubahan atau adanya perubahan. Pergantian generasi dalam
suatu masyarakat akan pasti terjadi.[10]
Untuk menciptakan generasi yang kompeten maka perlu diadakan pembinaan dan
pengembangan generasi muda/pemuda.
Tujuan yang akan dicapai dalam pembinaan dan pengembangan generasi
muda/pemuda adalah :
1) Memantapkan jiwa persatuan dan kesatuan
serta semangat sumpah pemuda untuk membangun bangsa dan kepribadian bangsa.
2) Mewujudkan kader-kader yang bertaqwa kepada
tuhan dan berpegang teguh pada Pancasila sebagai ideologi dan pandangan hidup
bangsa.
3) Melahirkan kader-kader pembangunan nasional
yang berbudi luhur, dinamis, dan kreatif.
4) Mewujudkan WNI yang kreatif berbudaya maju
tetap memiliki ciri khas kepribadian Indonesia.
5) Mewujudkan kader-kader patriot pembela
bangsa penerus cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Untuk menjaga dan memelihara keseimbangan dan kelestarian sejarah
bangsa, maka perlu ditekankan pentingnya keikutsertaan generasi muda dalam
kegiatan pembangunan. Wujud nyata harus dilakukan dalam perbuatan dan
pengabdian bukan hanya dalam angan-angan dan mimpi saja. Dalam hubungannya
dengan sosialisasi genersi muda khususnya mahasiswa telah melaksanakan telah
melaksanakan proses sosialisasi dengan baik dan dapat dijadikan contoh untuk
generasi muda, mahasiswa khususnya pada saat ini.
1. Peran pemuda/mahasiswa dalam menegakkan
kemerdekaan.
Peran pemuda dalam sejarah negara dan
bangsa Indonesia pertama kali dapat dilihat dari kebangkitan bangsa tahun 1908
atau tepatnya ketika berdiri Boedi Oetomo tanggal 20 Mei 1908. Melalui proses
kebangkitan bangsa ini, maka para pemuda telah menggelorakan semangat agar
bangsa Indonesia menjadi bangsa yang tidak terserak-serak dalam arti wilayah,
suku, ras, agama dan sebagainya akan tetapi telah memiliki kesadaran
berorganisasi sebagai persyaratan untukkebangkitan nasional. Mereka dikenal
sebagai generasi 08.[11]
Di kalangan pemuda terdapat gerakan Tri
Koro Darmo, Jong Java, Jong Celebes Bond, Jong Sumatra Bond, Perhimpunan
Pelajar Pelajar Indonesia, dan Indonesia Muda. Pada tanggal 30 April 1926
mereka mengadakan Konggres Pemuda di Jakarta. Dalam konggres dihasilkan keputusan
untuk mengadakan Konggres Pemuda Indonesia II, dan semua perkumpulan pemuda
agar bersatu dalam satu organisasi pemuda Indonesia. Kemudian Konggres Pemuda
II diadakan tanggal 27-28 Oktober 1928, disepakati tiga keputasan pokok yaitu:
1) Dibentuknya suatu badan fusi untuk semua organisasi pemuda. 2) Menentapkan
ikrar pemuda Indonesia 3) Asas ini wajib
dipakai oleh semua perkumpulan di Indonesia.[12]
Salah satu tonggak lain, persatuan dan
kesatuan bangsa sebenarnya ketika terjadi Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928.
Hal ini berarti bahwa pemuda telah memiliki peran yang sangat signifikan dalam
proses pembentukan negara kesatuan Republik Indonesia. Melalui Sumpah Pemuda:
“Kami putra dan
putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah air indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa
indonesia. Kami
putra dan putri Indonesia menjunjung
bahasa persatuaan, bahasa Indonesia.”
Pada tanggal ketika Ir. Soekarno, Moh. Hatta, dan
Radjiman sedang melakukan perjalanan dari Jakarta-Singapura-Dalat yang kemudian
kembali lagi ke Jakarta, beberapa pemuda secara diam-diam bahwa Jepang pada
saat itu sudah menyerah terhadap sekutu menyusul pengeboman Hiroshima dan
Nagasaki. Berita tersebut yang kemudian menyebar dengan cepat ke berbagai
jaringan Gerakan pemuda illegal.[13]
Berita tersebut juga disampaikan oleh Sutan Syahrir
kepada Moh. Hatta yang kemudian disampaikan kepada Ir. Soekarno. Namun, pada
saat itu Ir. Soekarno meragukan informasi tersebut.
Pada tanggal 15 Agustus dua pemuda yaitu Darwis dan Wikana
menyampaikan hasil rapat kepada Ir. Soekarno. Rapat tersebut dipimpin oleh
Chaerul Saleh memutuskan bahwa kemerdekaan harus diproklamasikan oleh bangsa
Indonesia sendiri. Kemudian mereka berunding bersama Ir. Soekarno dan Moh.
Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan dan meyiapkan golongan pemuda,
pelajar, dan mahasiswa untuk menghadapi situasi baru.
Mengingat situasi politik dan keamanan tidak kondusif, maka para
pemuda membawa Ir. Soekarno dan Moh. Hatta ke Rengasdengklok, Kabupaten
Karawang, Jawa Barat. Namun Ir. Soekarno masih belum percaya dengan berita
kekalahan Jepang.
Berikut ini kutipan Rahmat terkait pidato Chairul Saleh sebelum
proklamasi dikumandangkan. [14]
“Sekarang,
Bung! Sekarang! Malam ini Juga!” kata Chaerul Saleh. “Kita kobarkan revolusi
meluas malam ini juga. Kita mempunyai pasukan Peta, pasukan Pemuda, Barisan
Pelopor, bahkan Heiho sudah siap. Dengan satu isyarat Bung Karno seluruh
Jakarta akan terbakar. Ribuan pasukan bersenjata sudah siap sedia akan
mengepung kota, menjalankan revolusi bersenjata....”
Pada saat proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17
Agustus 1945 memerlukan suatu pengorbanan yang sangat besar. Oleh karena itu
setelah proklamasi dikumandangkan, segera para pemuda membentuk
organisasi-organisasi politik maupun militer. Setelah mempertahankan kemerdekaan dengan pertumpahan darah, maka
para pemuda yang sudah berjuang dengan berbagai cara memiliki tugas baru. Tugas
baru tersebut yaitu membangun strategi untuk mempertahankan teritori Indonesia
yang sudah berhasil direbut. Meski tidak lagi melawan penjajah dengan kekerasan
fisik, namun tugas pemuda sepertinya akan lebih berat karena harus melawan
kepentingan diri dan pribadi masing-masing.
Peran pemuda setelah kemerdekaan yaitu memaknai ikrar, sumpah, dan
perjuangan para pemuda Indonesia dari era perjuangan penjajah, menuju era baru
bernama integritas nasional (kesatuan nasional). Integritas nasional merupakan
upaya untuk menjaga dan menjalin nilai-nilai perjuangan masa penjajahan
kolonialisme dan Jepang.
2. Peran mahasiswa/pemuda dalam mempelopori
Orde Baru.
Dekrit presiden bermula dari adanya pemulihan umum
tahun 1959, yang berhasil membentuk konstituante, dan dalam pelaksanaan
tugasnya, konstituante dianggap gagal.[15] Dalam
Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959, menetapkan bahwa Republik Indonesia
kembali menggunakan UUD sebagai landasan kontitusional. Presiden soekarno lau
mengemukakan gagasannya yang terkenal dengan nama Demokrasi Terpimpin, yang
diharapkan dapat mengelola kekuatan-kekuatan politik yang saling bertentangan.
Yang kemudian dalam keadaan tersebut dimanfaatkan oleh golongan komunis (PKI) agar
lebih memantapkan peranannya dalam dunia politik.
Timbulnya ide NASAKOM, merupakan pembagian kelompok
masyarakat menjadi 3 golongan, yaitu golongan Nasional, golongan Agama, dan
golongan Komunis. Fakta tersebut berdampak terhadap kehidupan para
pemuda/mahasiswa. Dengan adanya pembagian-pembagian tersebut maka terjadilah
perpecahan bukannya persatuan dan kesatuan. Perpecahan tersebut selalu di
tunggu-tunggu oleh kelompok komunis karena dengan itu mereka akan lebih
memantapkan keterlibatannya dalam hal politik yang kemudian puncaknya yaitu
pada peristiwa G 30 S/PKI pada tahun 1945.
Aksi-aksi pemusnahan terhadap kelompok PKI kemudian
muncul secara spontan oleh setiap golongan, yang kemudian bersatu dalam Front
Pancasila. Pada saat itu kelompok-kelompok pemuda pemuda yang brbreda memiliki
tujuan yang sama untuk melakukan perubahan. Tuntutan untuk melakukan perubahan
ini sering dikenal sebagai Tritura (Tri Tuntutan Rakyat/ tiga tuntutan rakyat),
yaitu pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta anggotanya, perombakan
Kabinet Dwikora, dan meminta pemerintah untuk menurunkan harga sembako.[16]
Pada tanggal 15 Januari 1966 diadakan sidang paripurna
kabinet Dwikora di Istana Bogor. Dalam sidang itu dihadiri para wakil
mahasiswa. Presiden Soekarno menuduh aksi-aksi mahasiswa itu didalangi oleh CIA
(Central Intelligence Agency) Amerika Serikat. Pada tanggal 24 Februari
1966 diadakan pelantikan kabinet. Para mahasiswa, pelajar, dan pemuda memenuhi
jalan-jalan menuju Istana Merdeka namun dihadang oleh pasukan Cakrabirawa
sehingga terjadi bentrok dan menewaskan seorang mahasiswa bernama Arif Rahman
Hakim.[17]
Pada kenyataannya yang dihadapi oleh mahasiswa 1966
dan 1974 itu berbeda, yaitu jika generasi 1966 memiliki hubungan yang erat
dengan kekuatan militer. Sedangkan untuk generasi 1974 yang dialami adalah
konfrontasi dengan militer yang berposisi sebagai pendukung kemapanan. [18]
Front Pancasila menjadi penggerak lahirnya kesatuan
Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang merupakan unsur terpenting dalam sejarah
perjuangan bangsa Indonesia. Berikut ini beberapa organisasi pemuda yang juga
tidak kalah penting, yaitu Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KPPI),
Kesatian Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI),
Kesatuan Aksi Wanita Indonesia (KAWI), Kesatuan Aksi Buruh Indonesia (KABI),
Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI).[19]
KAMI kemudian menjadi pelopor pendobrak ke arah
kehidupan baru yang kemudian sering disebut dengan nama Orde Baru (ORBA).
3. Peran mahasiswa dalam masyarakat.
Dalam pepatah yang berbunyi barangsiapa yang menguasai
generasi muda, berarti menguasai masa depan suatu bangsa. Arti tersirat dalam
pepatah tersebut yaitu masa depan suatu bangsa itu terletak di tangan generasi
muda. Generasi muda memiliki tugas untuk menggantikan generasi sebelumnya.
Jumlah pemuda yang dapat mengenyam Pendidikan
Pendidikan tinggi tidaklah banyak. Sebagai pemuda yang dapat menyenyam
Pendidikan di perguruan tinggi yang tidak banyak tersebut, memiliki kewajiban
untuk membagikan tenaganya untuk kepentingan masyarakat. Mahasiswa secara garis
besar memiliki perasn sebagai:
a. Agent of
change
Sebagai Agent of Change, mahasiswa
memiliki tugas untuk mengadakan perubahan-perubahan dalam lingkungan masyarakat
yang lebih baik. Perubahan dalam hal kemanusiaan yaitu perubahan yang dilakukan
untuk pengabdian masyarakat agar dapat hidup bermartabat dengan menggunakan
pengetahuan yang diterima dalam Pendidikan.
Segala hal yang dapat menghambat jalannya
kemajuan maka harus diganti dengan hal-hal yang baru dan sesuai dengan tuntutan
zaman. Perubahan haruslah memperhatikan situasi dan kondisi keadaan sekitar.
Perubahan yang dilakukan di negara lain dan dapat memajukan negara tersebut
belum tentu dapat memberikan dampak yang baik pula jika diterapkan di
Indonesia.
b. Agent of
development
Sebagai Agent of development,
mahasiswa memiliki tugas untuk melancarkan pembangunan dalam segala bidang baik
fisik maupun nonfisik. Peran mahasiswa untuk membawa kesuksesan dalam bidang
pembangunan sangatlah penting dan tidak dapat diabaikan peranannya. Mahasiswa
diharapkan dapat menjadi pelopor-pelopor dalam bidang pembangunan. Pembangunan
tidak dapat dijalankan apabila manusia-manusianya tidak berusaha dengan keras.
c. Agent of
modernization
Sebagai Agent of modernization, mahasiswa
memiliki tugas untuk bertindak sebagai pelopor dalam pembaruan. Pembaruan yang
akan dilakukan tidak lepas kaitannya dengan peran lingkungan masyarakat
sekitar. Sesuatu yang sudah tertanam kuat di Indonesia tidak akan mudah untuk
diubah dengan hal-hal baru. Segala hal baru tersebut juga belum tentu membawa
kebaikan kepada bangsa Indonesia, bahkan terkadang hal-hal baru tersebut dapat
membawa bangsa Indonesia terperosok ke jurang kesengsaraan.
Mahasiswa yang memiliki Pendidikan yang
cukup tinggi seharusnya dapat memilah mana yang memerlukan perubahan dan mana
yang tetap dipertahankan tidak berubah. Untuk suksesnya pembaruan yang akan
dijalankan, sebaiknya mahasiswa tidak boleh meninggalkan masyarakat yang akan
diadakan perubahan.
Peran pemuda sebagai calon pemimpin masa
depan di lingkungan masyarakat juga tidak kalah penting. Dengan terbentuknya
organisasi pemuda diharapkan dapat menjadi wadah bagi calon-calon pemimpin
bangsa untuk belajar menjadi seorang pemimpin. Penggerak suatu perubahan berawal
dari dalam organisasi pemuda. Organisasi
pemuda juga merupakan tempat bagi pemuda untuk mengembangkan potensinya untuk
memiliki sifat kritis, idealis, inovatif, solider, dan semangat juang yang
tinggi. Dengan adanya organisasi pemuda, diharapkan dapat mendorong kegiatan
positif yang nantinya dapat melahirkan generasi penerus bangsa yang memiliki
jabatan tinggi dan dapat menggantikan pemimpin sebelumnya.[20]
d. Agent of
Social Control
Sebagai Agent of Social Control, mahasiswa
diharapkan dapat menjadi penengah antara pemerintah dengan masyarakat. Mahasiswa
diharapkan dapat berperan sebagai pengontrol peraturan, kebijakan, dan kegiatan
pemerintah.
Selain mencoba mendalami dan mengaplikasikan materi kuliah yang
disampaikan oleh dosen, mahasiswa juga mempunyai tugas lain yang tidak kalah
pentingnya, yaitu mengamati dan mengkritisi apa yang terjadi di masyarakat baik
masyarakat kampus maupun masyarakat luas (Urip Santoso : 2015). [21]
Sebagai aplikasi menerapkan mahasiswa sebagai social control, diharapkan
mahasiswa dapat lebih peka terhadap permasalahan yang terjadi di lingkungan
sekitar.
e. Agent of
Iron Stock
Sebagai Iron Stock, mahasiswa
diharapkan menjadi manusia yang Tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak
mulia sebagai generasi penerus bangsa.[22]
Mahasiswa sebagai generasi terpelajar sepatutnya memiliki pengetahuan dan
keterampilan yang lebih luas daripada orang lain. Mahasiswa diharapkan dapat
menjadi benteng yang kuat dan tangguh dalam menyikapi segala permasalahan yang
ada. Kuat dan tangguh tidak hanya dari fisiknya saja namun juga cara pandang
dan pola pikir yang cepat serta mental sekuat baja.
4. Peran mahasiswa/pemuda dalam menjaga
kedaulatan bangsa.
Mahasiswa/pemuda memiliki peran yang sangat penting
dalam menjaga kedaulatan NKRI khususnya dalam bidang pengembangan riset dan
teknologi. Dalam bidang teknologi, mahasiswa berperan untuk mendukung adanya
pembangunan infrastruktur nasional. Contohnya dalam hal pembangunan jembatan,
mahasiswa khususnya yang dalam bidang Teknik sipil seharusnya memiliki
pengetahuan yang lebih luas bukan hanya secara teori saja namun juga menguasai
lapangan dan memiliki sikap yang baik. Sehingga dalam praktiknya di lapangan
mereka dapat diandalkan dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia.[23]
Pemuda merupakan actor dalam pembangunan, generasi
muda harus mempunyai karakter yang kuat untuk membangun bangsa dan negaranya,
memiliki kepribadian yang tinggi, semangat patriotisme dan nasionalisme serta
memiliki jiwa saing. Pemudalah yang merubah pandangan orang terhadap suatu
bangsa dan menjadi tumpuan bagi para generasi terdahulu untuk mengembangkan
suatu bangsa dengan ide-ide ataupun gagasan yang membangun, wawasan yang luas,
serta berdasarkan dangan nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat, bangsa dan
Negara.[24]
Dalam menjaga kedaulatan bangsa pemuda diharapkan
dapat menjadi pemuda unggulan pembangun negeri adalah dengan meningkatkan
disiplin dan produktivitas belajar dan selalu berusaha berasa di garis depan
dalam penguasaan IPTEK dalam bidangnya masing-masing. Serta, mengembangkan
kualitas kebebasan dan demokrasi yang bertanggung jawab dan berbudaya.[25]
C.
Peran Pemuda dalam Prespektif Islam
Kata pemuda dalam Bahasa Arab yaitu fata
atau al-fityatu. Istilah ini terdapat pada Al-Qur’an.[26]
اِذْ اَوَى الْفِتْيَةُ اِلَى الْـكَهْفِ فَقَا لُوْا رَبَّنَاۤ
اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَـنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا
"(Ingatlah)
ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, Ya Tuhan
Kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk
yang lurus bagi kami dalam urusan kami."(QS.
Al-Kahfi [18]: Ayat 10)
Pada surat Al-Khafi ayat 9-26 menceritakan tentang kisah anak-anak
muda yang tidak ingin kembali menyembah berhala sehingga mereka memutuskan
untuk mengasingkan diri dari masyarakat dan berlindung dalam suatu gua. Karena pada saat itu mereka termasuk
minoritas di antara masyarakat penyembah berhala.[27]
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa peran pemuda sangatlah
penting sebagai agen perubahan. Karenanya, dalam agama Islam memandang
masa-masa muda adalah waktu yang sangat penting dan mahal untuk menentukan masa
depan seseorang tersebut. Masa muda merupakan masa dimana proses untuk
menjadikan para pemuda dapat bermanfaat bukan hanya untuk dirinya saja namun
juga bagi masyarakat sekitar.
Nabi Muhammad SAW Telah memberikan nasihatnya yang tertuang dalam
hadits yang berkaitan dengan kewajiban untuk memaksimalkan peran usia dan
pengalaman masa muda. Sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Abdullah Ibnu
Abbas yang berbunyi[28] :
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ:
شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ
فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“manfaatkan
5 hal sebelum datang 5 hal lain: (1) mudamu sebelum tuamu, (2) sehatmu sebelum
sakitmu, (3) kayamu sebelum miskinmu, (4) luangmu sebelum sibukmu, (5) hidupmu
sebelum matimu.”
Islam menempatkan masa muda sejajar dengan 4 aspek lainnya. Ini
menunjukkan betapa pentingnya masa muda itu. Apabila kita kehilangan masa muda
sama artinya dengan kita kehilangan salah satu modal kebahagiaan hidup. Dalam
pandangan Islam, masa muda merupakan masa peretas kejayaan.
Kata-kata yang tidak kalah lantang juga digemakan
oleh Syaikh Mushthofa al-Ghulaiyaini, seorang ulama besar dari Beirut Lebanon. Dalam karya visionernya yang
berjudul ‘Izhatun Nasyi’in ( عِظَةُ النَّاشِئِين ), beliau berkata:
إِنَّ فِى يَدِكُمْ أَمْرَ الأُمَّةِ, وَفِى إِقْدَامِكُمْ حَيَاتَهَا, فَأَقْدِمُوْا إِقْدَامَ الأَسَدِ الْبَاسِلِ وَانْهَضُوْا
نُهُوْضَ الرَّوَايَا, تَحْتَ ذَاتِ الصَّلاصِلِ تَحْيَ بِكُمُ الأُمَّةُ
“Di tanganmulah,
wahai generasi muda, segala urusan bangsa. Dalam langkahmu tertanggung masa
depan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, melangkahlah kalian bagaikan seekor
harimau yang gagah berani, yang tidak pernah mundur setapak pun. Bangkitlah
laksana para pemegang panji perang, yang berangkat menuju medan juang dengan
penuh tanggung jawab. Dengan usaha dan hasil karyamu, bangsa kalian akan hidup
bahagia.”
Ini menunjukkan bahwa pemuda merupakan calon-calon pemimpin di masa
depan. Masa depan bangsa tergantung bagaimana sikap para generasi mudanya untuk
membawa Indonesia menjadi lebih baik.
Untuk menciptakan generasi muda yang
bermanfaat bagi lingkungan masyarakat, maka diperlukan Lembaga Pendidikan yang
dapat mendidik mereka sehingga mampu berperan dalam lingkungan masyarakat.
Perguruan tinggi disini sangat berperan untuk menyeimbangkan antara kualitas
individu dengan kebutuhan masyarakat.
Perguruan tinggi merupakan suatu
lembagayang memiliki tujuan untuk menghasilkan SDM yang dapat mengabdi di
masyarakat. Terdapat pula perguruan tinggi Islam yang dapat membentuk individu
hidup sesuai dengan ajaran Islam. Marimba menyatakan, Pendidikan Islam
merupakan bimbingan jasmani dan rohani yang berdasar pada hukum agama Islam
agar dapat membentuk individu yang berkarakter Islami.[29]
Terbentuknya masyarakat seutuhnya yang berkualitas unggul
yang berkembang dan tumbuh di atas pola kehidupan yang seimbang antara lahiriah
dan batiniah, antara jasmani dan rohaniah atau antara kehidupan mental
spiritual dan fisik material. Dalam bahasa Islam, membentuk insan kamil yang
dapat mengembangkan dirinya dalam pola kehidupan yang kahasanah fiddunnya dan
khasanah fil akhirat terhindar dari siksaan api neraka, secara simultan
tidak terpisah-pisah antara kedua unsurnya.
Saat ini
perbincangan mengenai radikalisme di kalangan muda mulai banyak
diperbincangkan. Sejalan dengan perkembangan arus globalisasi, banyak hal
negative yang muncul. Radikalisme dapat mengancam keutuhan NKRI ini berawal
dari adanya keinginan untuk mendirikan negara yang berlandaskan Islam.
Radikalisme merupakan pemikiran atau gerakan yang menginginkan perubahan atau
permbaruan sosial dan politik namun dengan cara kekerasan. Hal ini dapat
mengguncang kepribadian dan jiwa para pemuda sebagai generasi penerus bangsa.
Radikalisme
mengenalkan dirinya sebagai jihad melawan kaum kafir dengan mendoktrin
anggotanya dengan beberapa pernyataan yang pada kenyataanya itu merupakan
tindakan anarkis dan termasuk kriminalitas jenis baru yang terkadang disebut
oleh masyarakat sebagai teroris. Mereka biasanya merekrut anggota dari kalangan
pemuda karena pemuda dianggap sebagai generasi yang mudah dipengaruhi, dilatih,
dan diajari untuk menjadi seorang pemberontak. [30]
Sebagai
pemuda kita dapat menangkal radikalisme. Sebagai pemuda Islam kita juga tidak
boleh menghakimi oranglain dan menganggap orang lain salah sedangkan menganggap
diri sendiri benar. Kita sebagai pemuda supaya lebih beriman kepada Allah SWT
dan juga dapat mencontoh sikap-sikap Nabi Muhammad SAW yang sangat mulia. Kita
juga harus belajar dari guru yang tepat dan tidak menafsirkan segala sesuatu
dari satu sudut pandang saja. Kita pemuda Islam kita juga pemuda penerus
bangsa. Saling menghargai dan menghormati merupakan kunci untuk kita membangun
perubahan yang nyata.
Peran pemuda
sebagai penjaga Islam yang rahmatan lil’alamin dengan melakukan pendekatan
tasawuf. Tasawuf merupakan wadah untuk
para pemuda dapat menumbuhkan karakter yang sejalan dengan ajaran Islam yang
ramah bukan marah, damai dan dapat memberikan ketenangan kepada semua orang.
Tasawuf
merupakan sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup
sederhana, rela berkorban demi kebaikan dan selalu bersikap bijaksana. Sikap-sikap
tersebut pada hakikatnya yaitu akhlak mulia. (Nata Abuddin 2015, hal. 155).
Pada hakikatnya
pemuda memiliki peran dalam agama. Berikut ini merupakan berbagai peran pemuda
dalam beberapa aspek seperti aspek kehidupan, beragama, dan berbangsa.[31]
1. Kekuatan moral
Pemuda seharusnya memiliki karakter yang
dapat menumbuhkan kesadaran moral. Pemuda sebagai generasi bangsa tidak hanya
cerdas secara intelektual namun juga cerdas dalam emosional.
Jika kita mengambil contoh terhadap 4 sifat
wajib para rasul, seperti Nabi Muhammad SAW sebagai Uswatun Hasanah atau
teladan yang baik, The Best of The Best dalam bermacam sifat dan
perilaku. Empat sifat wajib yang akan mencangkup berbagai nilai karakter,
yaitu:
a) Shiddiq (jujur)
b) Amanah (terpercaya)
c) Tabligh (menyampaikan apa yang diterima dari Allah)
d) Fathanah (pintar)
Karakter dan moral ini diharapkan para
pemuda dapat memiliki kekuatan moral dan dapat menjadi teladan untuk generasi
selanjutnya.
2. Kontrol sosial
Ashhabiyah (kesukuan atau tribalism) merupakan solidaritas
sosial dalam masyarakat tradisional yang didasarkan pada hubungan darah dan
kekerabatan menurut Ibnu Kholdun. Unsur perekat dalam masyarakat ini akan
semakin kuat apabila ditambah dengan kesamaan agama.
3. Agen perubahan
Manusia dalam Al-Quran dipandang sebagai
Khalifah Tuhan (khalifah Allah) di atas bumi dan dilengkapi kehambaanya (al-ubudiyyah)
terhadapnya. Pemuda sebagai agen perubahan diharapkan dapat menggunakan
pikirannya untuk menjaga marwah Islam sesuai dengan syariat Islam.
Berdasarkan pembahasan di atas, memiliki peran dan
tanggung jawab dalam menjaga Islam yang rahmatan lil’alamin, dengan persatuan
dan kesatuan bangsa, sikap bijak dan toleran, dan kepedulian terhadap sesama.
D.
Masalah dan Potensi Pemuda
1.
Permasalahan Generasi Muda
Masalah kepemudaan bukan lagi masalah yang asing bagi
kita karena masalah ini pasti pernah dialami oleh setiap generasi yaitu masalah
antara generasi penerus dan generasi yang lebih tua. Masalah ini wajar apabila
dialami oleh setiap generasi karena ini merupakan proses pendewasaan diri
setiap individu, dimana setiap individu tersebut dalam masa menyesuaikan diri
dengan keadaan yang baru dan diharapkan setiap individu memiliki pandangan
hidup yang lebih baik.[32]
Sebagian pemuda menempuh pendidikan lebih tinggi
daripada orangtuannya sehingga terdapat kurangnya kesamaan pandangan antara
orang tua dan anaknya. Pada masyarakat tradisional biasanya para orang tua dan
sesepuh memberikan pengertian dan dorongan kepada anaknya mengenai kehidupan
bermasyarakat yang dapat di terapkan di kehidupan masyarakat masa kini. Namun,
seringkali para orang tua dan sesepuh tersebut kurang memahami apa yang terjadi
di kehidupan masyarakat masa kini. Karena sering kali terdapat beberapa kondisi
yang belum pernah terjadi pada masa sebelumnya.
Dewasa ini ada beberapa hal yang ditemukan yaitu dalam
segi usia, pemikiran, dan fisik seorang pemuda dapat dikatakan sudah dewasa.
Namun, dari segi keuangan dan mental masih belum sepenuhnya dewasa. Saat ini
banyak ditemukan kasus dimana ada beberapa pemuda yang sudah menikah, memiliki
keluarga dan dapat mendapatkan hak politiknya sebagai warga negara Indonesia
tetapi dari segi ekonomi masih bergantung pada orang tuanya.
Permasalahan antar generasi bukanlah permasalahan baru
bagi kita. Kesenjangan antar generasi ini akan semakin nampak pada saat ada
masalah yang terlihat. Pada umumnya masalah antar generasi ini merupakan sebuah
cerminan dari kehidupan berbudaya masyarakat itu sendiri. Dengan demikian, cara
untuk menyelesaikan sebuah masalah juga merupakan cerminan dari bangsa itu
sendiri.
Para ahli paedagogik sosial juga berpendapat bahwa
masalah yang terjadi pada masyrakat antar generasi kurang dapat di masyarakat
yang tertutup tradisional. Maka dapat dikatakan bahwa masalahan antar generasi
merupakan suatu masalah modern. Pada intinya bahwa dalam masyarakat tradisional,
pembinaan dan pendewasaan terjadi secara bertahap yang akan diawasi oleh
masyarakat sosial.
Stabilitas sosial akan terbentuk apabila proses
pembentukan generasi berjalan dengan baik sehingga dapat membentuk pribadi
generasi yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh generasi sebelumnya.[33]
Dengan demikian, sudah jelas bahwa generasi muda harus
bersungguh-sungguh mempersiapkan diri. Menurut pola dasar pembinaan dan
pembangunan generasi muda bahwa permasalahan generasi muda dapat dilihat dari
beberapa aspek sosial seperti aspek sosial psikologi, sosial budaya, sosial
ekonomi, dan sosial politik, yakni : [34]
1) Sosial Psikologi
Proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian serta
penyesuaian diri secara jasmani dan rohani sejak asa kanak-kanak sampai usia
dewasa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti keterbelakangan jasmani
dan mental karena salah asuh oleh orang tua/ keluarga maupun guru-guru di
lingkungan sekolah, pengaruh negatif dari lingkungan pergaulan sehari-hari oleh
teman sebayanya. Hambatan – hambatan tersebut memungkinkan timbulnya kenakalan
remaja, ketidakpatuhan kepada orang tua dan guru, kecanduan pada narkotika,
dll.
2) Sosial Budaya
Proses pendewasaan generasi muda dalam proses
pembangunan dan modernisasi apabila tidak memperoleh arah yang jelas, maka
corak warna masa depan bangsa akan menjadi lain dari yang dicita-citakan.
Benturan antara nilai-nilai budaya tradisional dengan nilai-nilai budaya baru
akan dapat menimbukan pertentangan antara generasi muda dengan generasi
sebelumnya sehingga dapat menimbukan perbedaan sistem nilai dan pandangan
antara generasi tua dan generasi muda. Lebih lanjutnya, kondisi ini akan
menyebabkan terputusnya kesinambungan nilai-nilai luhur bangsa sebagaimana dalam dasar negara
Pancasila, antara lain bergesernya salah satu ciri kehidupan masyarakat
Indonesia, dari kekeluargaan dan gotong royong menjadi individualistis.
3) Sosial Ekonomi
Pertambahan jumlah penduduk dan belum meratanya
pembangunan dan hasil-hasil pembangunan mengakibatkan bertambahnya pengangguran
di kalangan generasi muda dikarenakan kurangnya lapangan pekerjaan. Ini
menimbulkan masalah sosial tersendiri serta rasa frustasi di kalangan pemuda.
Anggaran Pendidikan yang masih terbatas menyebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan
dan harapan yang pada akhirnya tidak mampu menjawab tantangan kebutuhan
pembangunan.
4) Sosial Politik
Kehidupan sosial politik aspirasi pemuda berkembang cenderung mengikuti
pola infrastruktur politik yang hidup dan berkembang pada suatu periode
tertentu yang mengambat upaya penumbuhan satu orientasi baru, yaitu pemikiran
untuk menjangkau keentingan bangsa di atas segala kepentingan lain. Belum
terarahnya Pendidikan politik di kalangan generasi muda dengan pengahayatan
mekanisme demokrasi Pancasila yang tertib hokum dan disiplin nasional
menyebabkan upaya penyaluran aspirasi generasi muda belum dilakukan secara
instutional dan konstitusional.
Dari beberapa aspek sosial dapat disimpulkan beberapa
masalah yang menyangkut generasi muda saat ini adalah :
a)
Menurunnya jiwa idealism, patriotisme, dan
nasionalisme di kalangan masyarakat termasuk generasi muda.
b)
Generasi muda kurang yakin akan masa depannya.
c)
Fasilitas Pendidikan dan jumlah generasi muda saat ini
kurang seimbang. Sehingga banyak terdapat kasus putus sekolah dengan berbagai
alasan.
d)
Tingginya tingkat pengangguran dan kurangnya lapangan
pekerjaan dapat mengakibatkan menurunnya produktivitas nasional serta dapat
menimbulkan berbagai macam masalah sosial lainnya.
e)
Kurangnya kesadaran terhadap pentingnya memenuhi gizi
sehingga dapat menghambat perkembangan kecerdasan di kalangan generasi muda.
f)
Tingginya tingkat pernikahan dini.
g)
Pergaulan bebas.
h)
Maraknya kenakalan remaja serta penyalahgunaan
narkotika.
Saat ini generasi muda dihadapkan dengan masalah penyalahgunaan
narkotika dan obat-obatan terlarang yang semakin meningkat. Perilaku generasi
muda yang menyimpang ini dapat membahayakan kelangsungan hidup bangsa di
kemudian hari. Semakin lama zat-zat berbahaya tersebut akan terus menggerogoti
dan menghancurkan syaraf yang akan menimbulkan generasi muda kita tidak dapat
berpikir secara jernih. Para generasi bangsa yang berkualitas akan terus
digerogoti oleh narkoba. Bahaya narkoba akan selalu mengincar generasi muda
kapan saja.[35]
2.
Potensi Generasi Muda
Potensi-potensi generasi muda yang perlu dikembangkan,
yaitu :[36]
a.
Idealisme dan daya kritis.
Jika dilihat
dari segi sosiologis, generasi muda masih belum dapat dikatakan matang dalam
tatanan yang ada, sehingga generasi muda biasanya dapat melihat kekurangan
dalam suatu tatanan sehingga dia dapat mencari suatu gagasan baru. Idealisme
dan daya kritis tersebut sebaiknya didampingi dengan rasa tanggung jawab dengan
seimbang.
b.
Dinamika dan kreatifitas.
Kedinamisan dan kreatifitas merupakan
kemampuan dan kemauan untuk melakukan sebuah perubahan, pembaharuan, dan
penyempurnaan terhadap segala hal yang kurang maupun menyampaikan pendapat
alternatif baru. Kedinamisan dan kreatifitas dapat dicapai dengan adanya
idealisme dalam generasi muda.
c. Keberanian mengambil resiko.
Perubahan
tidak akan terjadi apabila kita tidak berani mengambil sebuah keputusan yang
beresiko. Sebagai generasi muda seharusnya
memiliki keberanian dalam mengambil resiko. Setiap perubahan mengandung adanya resiko entah baik maupun buruk.
d. Optimis dan kegairahan semangat.
Generasi muda merupakan generasi yang
memilliki semangat yang masih menggebu-gebu karena generasi muda memiliki
energi yang membara. Sehingga apapun yang pemuda lakukan dengan semangat tinggi
akan optimis untuk melakukan segala sesuatu nantinya. Para generasi muda tidak
akan mudah patah semangat karena suatu kegagalan. Optimisme dan kegairahan
semangat ini yang kemudian menjadi pendukung untuk terus maju dan berkembang.
e. Sikap kemandirian dan disiplin murni.
Sebagai generasi muda sikap
mandiri dan disiplin harus tertanam dalam diri sendiri. Agar mereka tidak
memiliki sikap tenggang rasa.
f.
Terdidik.
Menurut perhitungan kuantitatif dan kualitaatif seorang generasi
muda itu adalah generasi yang terpelajar karena terbukanya peluang kesempatan
dari generasi-generasi sebelumnya.
g. Keanekaragaman dalam persatuan dan
kesatuan.
Keaneragaman generasi muda sama
halnya dengan keaneragaman masyarakat. Keanekaragaman ini juga dapat menghambat
jika dipikirkan secara sempit. Keaneragaman tersebut dapat ditempatkan dalam
rangka integrasi nasional dengan semangat Sumpah Pemuda 1928.
h. Patriotisme dan nasionalisme.
Menanamkan rasa kebanggaan,
kecintaan terhadap tanah air, akan mempertebal semangat pengamdian dan kesiapan
generasi muda dalam membela dan mempertahankan bangsa dan negara dari berbagai
bentuk ancaman
i.
Sikap kesatria.
Rasa tanggung jawab, pengorbanan,
pengabdian serta idealisme keberanian adalah sebuah unsur yang harus ditanamkan
pada generasi muda indonesia sebagai pembela dan penegak kebenaran dan keadilan
bangsa.
j.
Kemampuan penguasaan ilmu dan teknologi.
Pengembangan ilmu dan teknologi
(IPTEK) dapat dikembangkan sebagai transformator dan dinamisator terhadap
lingkunganya. Dan lebih melatar belakangi ilmu serta pendidikan dan juga
penerapan teknologi. Pemuda
memiliki potensi lebih besar untuk dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi karena mereka merupakan generasi yang tidak dapat lepas dari
teknologi. Sehingga, pemikiran untuk lebih mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi akan lebih inovatif.
Sosialisasi merupakan proses individu untuk membantu dan menyesuaikan
diri antara tindakan dan cara pendangnya supaya pada akhirnya dapat membantu
dan berperan baik sebagai kelompok ataupun secara individu.
Dengan adanya proses sosialisasi, individu pemuda akan
kabiasaan-kebiasaan hidup dan pandangannya terhadap suatu masalah dalam proses
sosialisasi akan lebih beragam. Diharapkan para pemuda dapat membawa diri dalam
bersikap dilingkungan masyarakat dan budayanya.
Proses sosialisasi dialami oleh semua warga negara tanpa kecuali. Dalam
buku “Pemikiran dan Perubahan Politik Indonesia” karya Alfian tahun 1978
menyebutkan bahwa “Disenangi maupun tidak disenangi, disadari maupun tidak,
proses sosialisasi dialami oleh semua anggota masyarakat, baik penguasa maupun
orang awam”; anak-anak, pemuda, orang tua, baik pria maupun wanita.[37]
E. Pemuda Masa
Kini
Dilihat
dari perilaku, tingkah laku pemuda sekarang sudah mulai terlihat apatis,
artinya perilaku tidak peduli terhadap suatu kesosialisasian masyarakat,
padahal hal tersebut sangat diperlukan untuk meneruskan kehidupan bermasyarakat
sekarang ini. Pemuda terlihat bertindak sesuka hati, artinya tidak peduli
kejadian apa yang sedang terjadi dan tidak banyak mendengar apa kata orang
asalkan menurutnya baik terus dilakukannya.
Golongan
pemuda terhadap masyarakat sekarang ini, tidak mendengarkan apa kata orangtua
terdahulu, padahal orang terdahulu sangat memerlukan adanya keaktifan,
kepedulian, dan kreatifitas dari pemuda sekarang agar mampu terus berkembang di
dalam kehidupan bermasyarakat dan dapat memimpinnya jika suatu saat orang
terdahulu kita sudah tidak ada. Menganut kebebasan pemuda, mengakibatkan pemuda
melakukan tindakan anarkis, moral pemuda menjadi rusak oleh karena itu rasa
cinta terhadap budaya atau kebiasaan-kebiasaan yang terjadi dimasyarakat akan
tidak ada artinya sama sekali jika hal tersebut terjadi. Adanya perkembangan
zaman yang disertai dengan teknologi ini, kita harus semakin semangat untuk
mempertahankan budaya yang telah ada. Dengan adanya jiwa kepedulian dan cinta
terhadap lingkungan sendiri hal buruk akan jauh dari kita karena kepedulian
memunculkan rasa kebersamaan yang kokoh dan tidak dapat tergoyahkan.[38]
Namun,
tidak semua pemuda bertindak sesukanya. Masih ada pemuda zaman sekarang yang
suka melestarikan budaya orang tua bahkan ada juga pemuda zaman sekarang yag
mengembangkan budaya tersebut sehingga dapat menjadi budaya yang lebih baik dan
dapat di terima oleh seluruh kalangan. Pemuda merupakan harapan masa depan.
Harapan bahwa pemuda sekarang dapat membawa lingkungan, negara, atau dalam
skala besarnya dunia menjadi dunia yang lebih baik. Dunia yang diinginkan oleh
setiap orang. Harapan tersebut akan dapat menjadi nyata apabila pemuda zaman
sekarang memiliki kualitas yang baik.
Kualitas
pemuda masa kini akan menjadi jaminan dari masa depan suatu bangsa yang cerah.
Pemuda merupakan aset bagi masa depan suatu bangsa yang tidak hanya perlu untuk
dijaga dan dipelihara namun juga dikembangkan. Kemampuan intelektual mendukung
kemampuan fisik dan keterampilan yang dimiliki pemuda, begitupula sebaliknya
sehingga masa depan bangsa Indonesia menjadi cerah.
Pemuda
sebagai pemilik masa depan harus mulai dipersiapkan dengan sungguh-sungguh
melalui berbagai upaya mulai dari tingkat nasional maupun lokal. Pemuda pada masa depan harus memiliki wawasan
kebangsaan yang kuat sebagai hasil dari kemampuan fisik, keterampilan, dan
intelektualnya. Pemerintah harus menyiapkan berbagai program unggulan untuk
membantu mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan kemampuan fisik, keterampilan, dan
intelektual yang dibutuhkan pemuda untuk menghadapi masa depannya. Dukungan
terhadap pengembangan sumber daya manusia di Perguruan Tinggi menjadi sangat
penting dalam penyiapan kemampuan pemuda untuk masa depan.[39]
Di era
sekarang ini pemuda dihadapkan akan perubahan lingkungan yang sangat cepat.
Pemuda yang berkualitas akan dapat ikut berkembang di lingkungan yang serba
cepat ini. Perkembangan teknologi diberbagai bidang, perkembangan pemikiran
manusia, maupun perkembangan masalah-masalah yang ada. Apabila pemuda tidak mau
atau lambat mengikuti perkembangan tersebut maka tidak menutup kemungkinan akan
tertinggal di dunia yang serba cepat ini.
Pemuda atau masyarakat umumnya memiliki
kebutuhan untuk saling berkomunikasi dan memperoleh berbagai informasi dalam
hidup apakah itu informasi bisnis, politik, dll dari berbagai lokasi. Namun
keterbatasan jarak dan waktu menjadi kendala berarti dalam berkomunikasi dan
memperoleh informasi.
Perkembangan
ICT (Information and Communication Technologies) yaitu perkembangan
teknologi, informasi dan komunikasi saat ini memberikan dampak signifikan
terhadap pemuda dan masyarakat pada umunya, media sangat berperan penting
terhadap informasi dalam kehidupan sehari – hari . Kemajuan ICT mempermudah
masyarakat untuk mengakses berbagai informasi dimanapun, kapanpun dan apapun
informasi yang dibutuhkan tanpa adanya batasan-batasan berarti.[40]
Perkembangan
teknologi memiliki memiliki dampak positif dan negative. Dengan adanya
perkembangan teknologi, manusia semakin dimudahkan dalam segala pekerjaannya.
Contohnya jika dahulu pemuda apabila ingin mengungkapkan aspirasinya atau
pendapatnya agar di dengar oleh pejabat-pejabat pemerintahan maka para pemuda
akan melakukan demonstrasi atau aksi turun ke jalan. Namun, saat ini semua
orang bisa mengungkapkan aspirasinya semakin mudah dengan adanya media sosial.
Namun disisi lain, perkembangan teknologi ini pula juga memiliki dampak
negative yaitu karena setiap orang dapat mengakses teknologi atau media sosial
sehingga banyak hal-hal yang tidak benar yang tersebar di media sosial yang
menyebabkan masalah.
Media
sosial saat ini sangat banyak macamnya. Salah satunya yaitu Instagram. Banyak
orang dari kalangan ana-anak, remaja, pemuda, hingga orang tua memiliki media
sosial ini. Instagram dewasa ini menjadi
platform sosial media yang banyak digemari dan berpengaruh terutama di kalangan
pemuda. Instagram berisi konten video berdurasi kurang dari dua menit, foto,
dan gambar karikatur serta rangkaian kata-kata, bijak, humor, bahkan satire
yang kesemuanya itu sering disebut meme. apakah ide atau gagasan yang diusung
oleh akun tertentu itu diakseptasi, diapresiasi, atau sebaliknya mendapat
resistansi dari para pengikutnya.[41]
“Kalau dulu, ketika anak-anak muda terlibat
aktivisme, mereka itu monoton. Kalau sekarang, gerakan mahasiswa itu kreatif.
Poster-posternya sebagian lucu-lucu. Kalua dulu, kalua ada demo, poster-poster
nya serius semuanya” Kata Anies Baswedan.[42]
Dapat disimpulkan bahwa pemuda zaman
sekarang lebih inovatif daripada pemuda zaman dahulu. Dengan adanya teknologi
pula para pemuda juga lebih inovatif dalam mengembangkan teknologi yang ada. Perkembangan
teknologi tidak akan melambat malah akan semakin cepat. Maka dari itu, peran
pemuda saat ini adalah memanfaatkan semaksimal mungkin teknologi untuk hal-hal
positif dan memunculkan inovasi-inovasi terbaru.
“kawan-kawan pemuda, jangan menunggu dunia
berubah. Dunia ada di tangan mu asal kita berani melangkah kita tak akan pernah
kalah.” Kata Nadiem Makarim[43]
Menurut
Nadiem, Indonesia membutuhkan sosok anak muda yang memiliki atau menguasai
ketiga hal ini :
1.
Ia yang punya keberanian untuk mengikuti isi
hatinya. Anak muda yang memiliki karakter, prinsip, yang tidak mudah
terpengaruh oleh dorongan dari luar dirinya atau perkataan orang lain.
2.
Ia yang memiliki kemampuan dalam memecahkan
berbagai macam masalah. Entah itu masalah dirinya sendiri, masalah di tempat
kerjanya, atau mampu melewati masalah dalam mencapai misi hidupnya.
3.
Ia yang mampu di ajak bekerjasama atau
berkolaborasi. Karena tentu di era modern sekarang ini, kita tidak bisa bekerja
sendirian, kita perlu orang lain, kita perlu berkolaborasi, kita memerlukan tim
yang solid dalam mencapai target apapun dalam hidup ini.
Dapat di
simpulkan bahwa kita sebagai pemuda masa kini yang tumbuh berkembang tidak
lepas dengan adanya teknologi. Maka, kita juga harus mengembangkan karakter
diri kita dan selalu menggali potensi diri. Kita harus bisa berkembang sesuai
dengan jati diri kita dan mengikuti kata hati.
Selanjutnya,
kita juga harus mampu untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada. Kita hidup
tidak mungkin tidak pernah menemui masalah. Setiap orang memiliki masalahnya
msing-masing, hanya tinggal bagaimana cara kita menghadapi dan menyelesaikan
masalah itu. tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan. Setiap masalah
memiliki jalan keluarnya masing-masing.
Terakhir
yaitu bekerja sama karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup
sendiri. Maka dari itu, dibutuhkan kerja sama yang hebat dan tim yang solid
akan menciptakan kesuksesan abadi.
Sudah
saatunya kita sebagai pemuda berjuang untuk maju agar bisa merdeka. Berjuang
dengan sungguh-sungguh, maju dalam berinovasi dan merdeka dari segala hal yang
menghambat kita untuk berkreasi.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pemuda atau sering kita sebut dengan generasi muda sangat berperan dalam
berbagai aspek. Pemuda juga berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan
sampai saat ini. Peran pemuda dalam lingkungan masyarakat juga terbagi menjadi
beberapa jenis yaitu pemuda yang mau untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan
dan pemuda yang menolak menyesuaikan diri. Selain peran pemuda dalam masyarakat
dan kemerdekaan, adapula peran pemuda dalam prespektif Islam menurut al-qur’an
dan hadits. Disamping begitu banyaknya peran pemuda atau generasi muda dalam
kehidupan ternyata ada pula masalah-masalah yang dihadapi oleh pemuda yang
dilihat dari beberapa aspek sosial seperti aspek sosial psikologi, sosial
budaya, sosial ekonomi, dan sosial politik. Walaupun dihadapkan dengan begitu
banyaknya masalah, pemuda juga memiliki potensi dalam dirinya.
Dari
perkembangan zaman ini semakin pudar antara pemuda yang satu dengan pemuda yang
lainnya karena efek dari adanya perkembangan
teknologi yang semakin cepat. Namun, tidak semua pemuda memiliki karakter
seperti itu. Banyak pula pemuda yang memiliki jati diri yang kuat dan dapat
diandalkan untuk menjadi pilar masa depan yang lebih cerah. Banyak tokoh-tokoh
bangsa yang percaya dan yakin bahwa generasi muda dapat melakukan tugasnya
dengan baik.
B.
Saran
Penulis tentunya masih menyadari jika makalah diatas masih terdapat
banyak kesalahan dan jauh dari kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki makalah tersebut dengan
berpedoman pada banyak sumber serta kritik yang membangun dari para pembaca.
